JAKARTA - Sebagai pusat dari teknologi dunia, banyak orang
di kawasan Silicon Valley di California menganggap bahwa artificial
intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, akan memiliki kemampuan yang
melampaui manusia. Istilah untuk merujuk pada hal ini ialah 'Singularity'.
Salah satu orang yang mempercayai akan hal tersebut ialah
mantan pegawai Google bernama Anthony Levandowski. Pada September 2015 lalu,
Levandowski diketahui mendirikan sebuah agama baru yang dinamakan Way of the
Future. Hal ini diketahui melalui pengajuan pendaftaran yang tak pernah
terungkap sebelumnya.
Dikutip dari Wired, Minggu (1/10/2017), tujuan dari agama
baru itu ialah untuk mengembangkan dan mempromosikan dari realisasi ketuhanan
berdasarkan kecerdasan buatan.
Meski begitu, Way of the Future sendiri masih belum
mengirimkan kembali permintaan formulir yang harus diserahkan kepada Internal
Revenue Service (dan membuat ketersediaan untuk umum) sebagai perusahaan atau
lembaga non-profit.
Sementara dari pengajuan dokumennya, diketahui bahwa Anthony
Levandowski menjadi CEO dan Presiden dari perkumpulan pemuja kecerdasan buatan
tersebut. Way of the Future juga bertujuan untuk mengedepankan pemahaman dan
penyembahan terhadap ketuhanan untuk kontribusi pada kemajuan masyarakat.
Soal dunia kecerdasan buatan, nama Anthony Levandowski
memang tak bisa dianggap remeh. Ia telah berpengalaman dalam mengembangkan
mobil otomatis. Levandowski pernah bekerja di proyek Waymo (divisi pembuat
mobil otomatis) milik Google.
Setelah keluar dari Google, ia sempat mendirikan perusahaan
bernama Otto yang kemudian diakuisisi oleh Uber untuk pengembangan mobil
otomatis berbasis kecerdasan buatan. Namun karier Levandowski di Uber harus
terhenti setelah dituduh Google mencuri teknologi miliknya.
Belum diketahui kegiatan seperti apa yang akan dilakukan
oleh kelompok Way of the Future ini. Selain itu, karier Levandowski setelah
dipecat Uber juga masih belum diketahui hingga kini.
Dikutip dari www.okezone.com

ConversionConversion EmoticonEmoticon